Cerita tentang hantu banyak memenuhi
buku-buku dongeng dan film-film horor sehingga membuat gambaran menyeramkan
dalam pikiran banyak orang. Hantu sering digambarkan dengan makhluk yang sangat
menyeramkan, memangsa manusia, rambut berantakan, berkuku panjang, mata
melotot, tinggal di rumah sepi atau area kuburan atau tempat pembunuhan. Namun,
sebenarnya masalah hantu bukanlah masalah baru, melainkan masalah klasik yang
ada sejak zaman dahulu.
Pembahasan tentang hantu selalu unik
dan menarik untuk diulas. Namun, sayangnya jarang sekali yang membahasnya
melalui sudut pandang syari’at Islam. Oleh karenanya, kami merasa perlu untuk
membahas tentang hantu ini sebab banyaknya kerancuan seputar masalah ini dan
anggapan sebagian kalangan bahwa Islam tidak membahas tentangnya, bahkan ada
yang melampaui batas sehingga menganggap bahwa hantu adalah salah satu
Tuhan(!). Maha Suci Allah dari ucapan mereka.[1]
Nah, tulisan ini akan lebih
difokuskan pada hadits-hadits Nabi yang membicarakan tentang “hantu” karena
dalam sebagian hadits ada penjelasan tentang adanya hantu tetapi dalam hadits
lain ada penjelasan bahwa hantu itu bukan hantu. Lantas, bagaimana cara mengkompromikannya?!!
Teks Hadits
عَنْ
جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ « لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا
غُولَ ».
Dari Jabir berkata, “Rasulullah
bersabda, ‘Tidak ada penyakit menular, thiyarah (merasa sial), dan ghul
(hantu).’ ”
SHAHIH. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahîh-nya no. 2222,
Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzîbul Âtsâr no. 25, Ali bin Ja’ad dalam
Musnad-nya no. 2693, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3251,
Ahmad dalam Musnad-nya 3/293, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no.
281, ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr 1/340 seluruhnya dari jalur Abu
Zubair dari Jabir.
Dan riwayat Abu Zubair dari Jabir
adalah lemah, sebab Abu Zubair adalah seorang mudallis (menyembunyikan
cacat) dan dia meriwayatkan dengan lafazh ’an (dari). Namun, hadits ini
shahih karena dalam jalur lain telah ditegaskan bahwa Abu Zubair mendengar
langsung dari Jabir, sebagaimana dalam jalur Ibnu Juraij dalam riwayat Ibnu
Jarir dalam Tahdzîbul Âtsâr no. 26, ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr
1/340, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 268, Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya
no. 6095.
Hadits ini sangat jelas menunjukkan
penafian (peniadaan) adanya ghul. Apa yang dimaksud dengan ghul?
Berikut ini ungkapan beberapa ucapan ulama dan ahli bahasa tentangnya:
• Ibnu Duraid berkata, “Ghul
menurut orang Arab adalah tukang sihir dari kalangan setan dan jin. Inilah
pendapat al-Ashma’i.” [2]
• Al-Jahidz berkata, “Ghul
adalah ungkapan untuk jin yang mengganggu orang yang bepergian dan menjelma
dalam beberapa bentuk, baik berjenis pria atau wanita.” [5]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa
hantu (ghul) bukanlah arwah gentayangan atau orang mati yang bisa hidup kembali
arwahnya untuk balas dendam, karena semua itu adalah khurafat yang batil,
sejenis dengan reinkarnasi yang merupakan aqidah orang-orang kafir yang
dibatalkan oleh Islam.
Sekilas Bertentangan
Hadits di atas menunjukkan bahwa
hantu itu tidak ada, namun dalam hadits lainnya Nabi menetapkan adanya hantu,
diantaranya adalah hadits Abu Ayyub sebagai berikut:
Dari Abu Ayyub bercerita bahwa
dirinya memiliki sebuah rak/lemari kecil, lalu hantu datang seraya mengambil
(baca: mencuri) isinya. Akhirnya beliau mengeluhkan hal itu kepada Nabi, maka
Nabi berkata kepadanya, “Apabila kamu melihatnya maka katakanlah: ‘Dengan nama
Allah, penuhilah Rasulullah.’” Ketika hantu itu datang lagi, maka Abu Ayyub
mengatakan seperti yang dipesankan Nabi seraya menangkapnya, tetapi hantu itu
mengatakan, “Saya berjanji tidak akan datang lagi kemari.” Mendengarnya, Abu
Ayyub melepaskannya. Ketika dia bertemu dengan Nabi, maka Nabi bertanya
kepadanya, “Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Abu Ayyub menjawab, “Saya
menangkapnya tetapi dia berjanji padaku untuk tidak kembali lagi sehingga saya
lepaskan lagi.” Nabi bersabda, “Dia akan kembali lagi.” (Kata Abu Ayyub:) Saya
telah menangkapnya dua atau tiga kali tetapi dia selalu berjanji padaku untuk
tidak kembali lagi. Suatu saat ketika saya menangkapnya, dia mengatakan padaku,
“Lepaskanlah aku dan saya akan mengajarkan kepadamu sebuah ucapan yang jika
engkau membacanya niscaya engkau tidak diganggu oleh setan yaitu bacaan Ayat
Kursi.” Abu Ayyub lalu datang kepada Nabi seraya mengabarkan omongan hantu
tersebut, lalu Nabi bersabda, “Dia benar dalam hal ini, padahal dia adalah
pembohong.”
SHAHIH. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2880, Ibnu Abi Syaibah
dalam al-Mushannaf 10/397–398, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr
no. 4011, Abu Nu’aim dalam Dalâil Nubuwwah hlm. 526, al-Hakim dalam al-Mustadrak
3/459, ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr 5/423.
Hadits ini memiliki banyak jalur dan
penguat dari hadits Ka’ab bin Malik, Abu Hurairah, Muadz bin Jabal, Buraidah,
Abu Usaid as-Sa’idi, dan sebagainya. Oleh karenanya, Imam Hakim berkata,
“Hadits-hadits ini apabila dikumpulkan maka menjadi hadits yang masyhur.” Dan
Imam Dzahabi berkata mengomentari hadits di atas, “Ini adalah jalur hadits ini
yang paling bagus.” Dan dishahihkan Syaikh Albani dalam Shahîh Sunan
at-Tirmidzî no. 2880.
Hadits ini dan hadits-hadits lainnya
menunjukkan tentang adanya hantu.[6]
Hal ini diperkuat oleh ucapan sebagian ulama bahwa banyak para sahabat yang
melihat hantu, di antaranya adalah Umar bin Khaththab a\.[7]
Imam Qurthubi juga berkata, “Mayoritas orang Arab banyak bercerita dan mengaku
bahwa mereka pernah melihat hantu.” [8]
Dan dalam hadits ini terdapat faedah
lainnya yaitu mungkinnya seorang untuk melihat jin dan hantu tetapi bukan
dengan bentuk asli mereka dan bahwasanya hantu bisa berubah-rubah wujudnya[9]
karena mereka adalah tukang sihir dari kalangan jin sebagaimana kata Umar bin
Khaththab, “Tidak ada seorang pun yang bisa berubah dari wujud asli ciptaan
Allah, tetapi pada mereka (jin) terdapat tukang sihir seperti pada kalian
(manusia). Karena itu, jika kalian melihat hantu maka kumandangkan
adzan.” [10]
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
“Banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa mereka bisa berubah wujud. Ahli
kalam berselisih tentang hal itu. Ada yang berpendapat bahwa itu hanya
fiktif/khayalan belaka dan tidak ada yang bisa berubah wujud. Dan ada yang
berpendapat bahwa mereka bisa berubah wujud tetapi bukan dengan kemampuan
mereka namun dengan melakukan ritual-ritual seperti sihir.” [11]
Mengurai Benang Kusut
Bila kita cermati dua hadits di
atas, sekilas nampak ada kontradiksi, sebab di satu sisi Nabi meniadakan adanya
ghul (hantu), tetapi di sisi lain beliau juga menetapkan wujudnya. Oleh
karena itu, para ulama berusaha untuk menjelaskan duduk permasalahan tersebut
dan pendapat mereka terpolar menjadi tiga pendapat:
Pendapat
pertama: Hantu itu tidak ada wujudnya
Mereka mengatakan: Hantu hanyalah
untuk menakuti-nakuti saja tetapi sebenarnya wujud mereka tidak pernah ada. Di
antara yang berpendapat demikian adalah al-Mabrid, Abdurrahman al-Maidani, dan
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha beliau mengatakan, “Pendapat yang kuat dan masuk
akal bahwa hantu itu hanyalah fiktif dan khayalan belaka yang tidak ada
faktanya. Bisa jadi orang yang melihatnya karena melihat hewan yang aneh
seperti kera.” [12]
Namun, pendapat ini lemah sebab
bertentangan dengan hadits Abu Ayyub dan atsar Umar bin Khaththab di atas.
Pendapat
kedua: Hantu pernah ada kemudian sudah tidak ada lagi
Pendapat ini dikuatkan oleh Imam
Thahawi, beliau mengatakan setelah membawakan hadits Abu Ayyub, “Dalam hadits
ini Nabi menetapkan adanya hantu, namun dalam hadits-hadits sebelumnya Nabi
meniadakannya. Mungkin seorang akan mengatakan bahwa ini adalah kontradiksi
antara hadits Nabi. Kita jawab: Tidak ada kontradiksi antara keduanya karena
bisa jadi hantu memang ditetapkan dalam hadits Abu Ayyub, namun setelah itu
diangkat oleh Allah sebagaimana dalam hadits Jabir. Inilah metode yang paling
baik untuk mengkompromikan antara hadits-hadits ini.” [13]
Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Malik.[14]
Namun, pendapat ini juga lemah
karena tidak ada dalil yang jelas akan adanya nasikh mansukh (ada yang
menghapus dan dihapus).
Pendapat
ketiga: Pendapat yang kuat
Mayoritas ulama mengatakan bahwa
maksud Nabi “Tidak ada ghul” bukan berarti tidak ada wujud hantu, tetapi maksud
Nabi adalah meniadakan kepercayaan dan khurafat yang beredar di masa jahiliah
(hingga sekarang) bahwa hantu makan manusia, menyesatkan manusia di jalan,
bebas menjelma seenaknya, dan sebagainya.
Pendapat ini adalah pendapat yang
lebih kuat ditinjau dari beberapa alasan sebagai berikut:
1. Tidak terbukti secara syar’i,
akal, dan fakta bahwa hantu memakan manusia, penampakan di lembah-lembah
seperti khurafat-khurafat yang beredar.
2. Nabi mengiringkan peniadaan hantu
dengan peniadaan penyakit menular, bulan Shafar, dan thiyarah (merasa
sial) padahal Nabi juga menetapkan adanya penyakit menular, sehingga para ulama
menjelaskan bahwa maksud ucapan Nabi bahwa tidak ada penyakit menular yakni
keyakinan jahiliah bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya, bukan berarti
tidak ada penyakit menular sama sekali.[15]
Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan,
“Dalam sabda Nabi ‘Tidak ada ghul/hantu’ terdapat penjelasan bahwa Nabi
membatalkan kepercayaan jahiliah tentang hantu bahwa mereka bisa menolak bahaya
dan memberikan manfaat tanpa campur tangan Allah. Oleh karena itu, Nabi
mengiringkannya dengan kepercayaan bangsa Arab lainnya bahwa hal-hal tersebut
bisa membahayakan dan bermanfaat dengan sendirinya seperti penyakit menular,
bulan Shafar, dan thiyarah.” [16]
3. Imam Nawawi berkata, “Mayoritas
ulama mengatakan, ‘Bangsa Arab berkeyakinan bahwa hantu dari jenis setan di
lembah-lembah bisa menjelma dengan berbagai bentuk lalu menyesatkan jalan
mereka lalu membinasakan mereka.’ Oleh karenanya, Nabi membatalkan hal itu.
Ulama lainnya mengatakan, ‘Maksud hadits ini bukanlah peniadaan wujudnya hantu,
melainkan maksudnya adalah membatalkan keyakinan orang Arab bahwa hantu bisa
menjelma dalam berbagai bentuk lalu menyesatkan manusia.’ ” [17]
4. Dalam beberapa hadits dari Abu
Ayyub, Ubai bin Ka’ab, dan sebagainya ditunjukkan bahwa maksud peniadaan dari
hantu adalah bukan peniadaan wujud mereka, melainkan keyakinan orang Arab
tentang hantu. As-Suhaili berkata, “Makna ‘Tidak ada ghul/hantu’ adalah Nabi
membatalkan keyakinan jahiliah seputar dongeng-dongeng dan khurafat tentang
hantu.” [18]
Al-Baghawi juga berkata, “Sabda Nabi ‘Tidak ada ghul/hantu’ bukanlah berarti
tidak ada wujud hantu, melainkan maksudnya adalah tidak ada kepercayaan Arab
yang mengatakan bahwa hantu bisa menjelma kepada manusia dengan berbagai bentuk
lalu menyesatkan mereka dan membinasakan mereka. Syari’at mengabarkan bahwa
hantu tidak mungkin bisa melakukan semua itu berupa penyesatan dan kebinasaan
kecuali dengan izin Allah.” [19]
Benteng Diri dari Gangguan Hantu
Syari’at Islam telah sempurna, tidak
ada suatu kebajikan apa pun kecuali telah dijelaskan dan tidak ada suatu
keburukan pun kecuali telah diperingatkan. Di antara hal yang dijelaskan oleh
Islam adalah kiat-kiat agar terhindar dari gangguan hantu. Bagaimana caranya?
Ikutilah petunjuk berikut:
1.
Membaca nama Allah
Dalam hadits Abu Ayyub di atas
dikisahkan bahwa ketika beliau mengeluhkan kepada Nabi n\ dari gangguan hantu
maka beliau bersabda:
فَقُلْ
بِسْمِ اللَّهِ أَجِيبِى رَسُولَ اللَّهِ
“Katakanlah bismillah (dengan nama
Allah), penuhilah Rasulullah.”
2.
Membaca Ayat Kursi
Dalam hadits Abu Ayyub di atas juga
disebutkan bahwa hantu yang ditangkapnya mengatakan pada Abu Ayyub,
“Lepaskanlah aku dan saya akan mengajarkan kepadamu sebuah ucapan yang jika
engkau membacanya niscaya engkau tidak diganggu oleh setan yaitu bacaan Ayat
Kursi.” Abu Ayyub lalu datang kepada Nabi seraya mengabarkan omongan hantu
tersebut, lalu Nabi bersabda, “Dia benar dalam hal ini, padahal dia adalah
pembohong.”
3.
Memakmurkan rumah dengan dzikir dan ketaatan
Hal ini berdasarkan sabda Nabi:
لَا
تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ
الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Jangan jadikan rumah kalian seperti
kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surat
al-Baqarah.” (HR. Muslim: 1860)
At-Turkumani pernah bercerita bahwa
salah seorang gurunya sering diganggu oleh hantu ketika malam hari sehingga
melempari batu dan membuat penghuni rumah takut, lalu beliau dan rekannya pergi
ke rumah sang guru dan membaca Surat al-Baqarah secara sempurna kemudian
berdoa. Setelah itu, rumah tersebut tidak lagi diganggu oleh hantu. Semua itu
adalah karena keberkahan al-Qur’an.[20]
4.
Menghilangkan rasa takut terhadap hantu
Inilah wasiat Umar bin Khaththab
tatkala mengatakan, “Buatlah hantu takut kepada kalian sebelum mereka membuat
kalian takut.”. [21]
5.
Tidak bergadang ketika sudah larut malam
Hal ini berdasarkan hadits:
إِيَّاكَ
وَالسَّمَرَ بَعْدَ هَدْأَةِ اللَّيْلِ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُوْنَ مَا يَأْتِي
اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ
“Janganlah kalian bergadang ketika
malam sudah sunyi/hening, karena kalian tidak tahu apa yang Allah datangkan
dari makhluk-Nya.” [22]
6.
Mengumandangkan adzan
Ada beberapa hadits yang lemah
tentang masalah ini, tetapi ada hadits shahih yang dijadikan dasar oleh ulama
dalam masalah ini yaitu:
إِذَا
أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ حُصَاصٌ
“Sesungguhnya apabila muadzin
mengumandangkan adzan maka setan akan lari dengan terkentut-kentut.” [23]
Abu Awanah mengatakan setelah
meriwayatkan hadits ini, “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang apabila
merasa ada hantu atau mendapati orang yang kesurupan lalu dia adzan maka setan
akan lari darinya.” Dan ini juga didukung oleh atsar Umar bin Khaththab yang
lalu, karena atsar tersebut adalah shahih, dan sekalipun hanya sampai kepada
Umar (mauquf) namun hukumnya marfu’ (sampai kepada Nabi).
Demikianlah pembahasan singkat
tentang hantu. Kita berdo’a kepada Allah agar menjaga kita semua dari godaan
setan yang terkutuk dan memberikan kepada kita semua kebahagiaan dan
ketenteraman di dunia dan akhirat. Âmîn yâ Rabbal ’âlamîn.
Oleh : Ustadz Ahmad Syaifuddin S. H.(Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar